Allah SWT.
berfirman
QS. Ali Imran
ayat 14
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan
manusia cinta terhadap apa yang di inginkannya, berupa perempuan-perempuan,
anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda
pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan
di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik"
Berdasarkan ayat diatas, kita jadi
tahu kan kenapa bisa begitu sayang dan cinta kepada anak? Hal ini merupakan
Sunatullah bahwa, Allah memang
menciptakan perasaan cinta terhadap anak-anak diantara sekian banyaknya
kesenangan hidup manusia di dunia. Begitu menggendong bayi untuk pertama
kalinya dan menyusuinya, hati bunda dan ayah terasa berdebar-debar, harapan
menjulang tinggi, perasaan yang campur
aduk bak gado-gado juga deraian air mata kebahagiaan yang meleleh tiada
henti-hentinya, benarkan?
Selamat kepada para orang tua yang
sudah diberi kepercayaan oleh Allah,
seorang anak untuk di jaga dan di sayang, sebuah anugerah yang sangat besar
nilainya, tidak akan bisa di ukur dengan mata uang dan harta manapun di dunia ini dan sebuah
tanggung jawab yang amat sangat besar sekali kini berada di atas pundak kalian
berdua selaku orang tua.
Bagaimana
caranya mendidik dan mengasuh dengan asuhan terbaik?
Sudahkah kita
memberikan yang terbaik?
Pertanyaan-pertanyaan
itu akan selalu berputar-putar dikepala dan hati kita. karena itu marilah kita
selalu mencari ilmu dan belajar sebanyak-banyaknya agar kita bisa memastikan
bahwa putra-putri kita mendapatkan hak nya dengan baik dan menjadikan mereka
manusia yang sholeh-sholehah. Menjadikan mereka cahaya bagi keluarga kita.
Dan contoh teladan terbaik dalam
mendidik anak itu cuma satu saja. Kita cari tahu dan tiru bagaimana Rasulullah,
manusia paling sempurna di muka bumi tersebut dalam mendidik anak-anak menjadi
sosok terkuat dan terbaik dimasanya. Bukan melalui latihan-latihan keras dan
didikan yang menegangkan, namun dengan kelembutan dan suri tauladan.
"Lah kan
itu dimasa Rasulullah... emangnya berlaku di zaman sekarang?"
Jawab saya
"Ya iyalaaah... sampai kapanpun, jika kita meniru cara didik Rasulullah.
Anak-anak kita InsyaAllah akan menjadi sosok terbaik di zaman sekarang."
Tidakkah kita ingin anak-anak kita
menjadi anak yang menyenangkan hati, yang taat, yang patuh, yang
sholeh-sholehah, yang sayang kepada kita dengan tulus walau dengan cara mereka
sendiri?
Siapapun pasti
mendambakan anak-anak yang seperti itu.
Tunggu apa lagi?
Tirulah
Rasulullah maka semuanya akan beres, berkah dan menyenangkan. Keluarga kita
akan diliputi kedamaian dan kekhusyukan dalam menyembah Allah.
InsyaAllah
Namun...
Sebelumnya kita harus tahu bagaimana kedudukan anak di tengah keluarga dalam
pandangan islam.
1. Anak sebagai Amanah
Seperti saat seorang teman meminjamkan sebuah buku kepada
kita. Tentu saja tugas kita adalah
menjaga dan memastikan buku tersebut aman, tidak rusak dan kotor sehingga saat
kita mengembalikan buku itu kepada pemiliknya, akan terasa puas dan senang .
Jika dengan buku pinjaman teman saja kita bisa begitu berhati-hati, bagaimana
dengan anak, yang kita jadikan sebagai perhiasan dan cahaya dalam hidup kita.
Tentu saja kita akan amat sangat berhati-hati dan memastikan ia mendapat yang
terbaik.
Sabda Rasulullah SAW
"..Suami sebagai pimpinan didlm rumah tangganya dan dia bertanggung jawab
dalam rumah tangganya..." (HR. Bukhori Muslim).
Kita akan diminta pertanggung
jawaban atas apa yang sudah di amanahkan kepada kita. Ini tugas yang sangat
berat kan? Kita tidak ingin kan saat nanti kita bertatapan dengan Allah
kelak di akhirat, yang kita bawa adalah
cela dan di cap sebagai manusia yang tidak bisa menjaga amanah?
Karena itu tugas kita terutama
para bunda, yang lebih banyak berinteraksi dengan amanah yang satu ini, kita
harus mendidik, merawat dan memastikan dia tumbuh menjadi manusia yang di
ridhoi Allah.
2. Anak Sebagai Media Beramal
Kita kerja untuk siapa? Para ayah atau kadang ada
juga para bunda yang banting tulang tiap hari mulai pagi hingga sore itu
kira-kira untuk siapa? Yang pastinya untuk anak kan? Bahkan sampai merantau ke
negeri orang, kira-kira itu untuk dirinya sendiri? tentu saja tidak dong. Yang
pasti kita melakukan demi keluarga.
Nah setiap jerih payah itu,
Subhanallah betapa besar pahala yang mengalir. dan semua dihitung sebagai
ibadah.
Rasulullah bersabda
"Apabila orang tua memberi nafkah kepada keluarga dan ia mengharap
pahala karenanya, maka nafkah itu menjadi sedekah baginya" (HR.
Bukhori Muslim)
dan hadis yang lain.
"Satu dinar engkau nafkahkan untuk dijalan Allah, satu dinar engkau
sedekahkan untuk faki miskin dan satu dinar engkau sedekahkan untuk keluargamu,
maka yang paling besar pahalanya ialah engkau nafkahkan kepada anak dan
istrimu" (HR Muslim)
wow... menakjubkan kan, bukan?
Bisa kita hitung pahala kita,
yang kita lakukan mulai mereka buka mata dipagi hari hingga tertidur di malam
harinya? Allahu'alam, hanya Allah yang tahu. Selama kita melakukannya dengan
penuh keikhlasan karena Allah. Bukan tidak mungkin melalui merekalah, kita
masuk ke dalam Surga.
3. Anak Sebagai Amal Jariyah.
Rasulullah bersabda
"Apabila manusia mati, maka terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara
: Sedekah, Ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan orang
tuanya" (HR. Bukhori Muslim)
setelah kita mati, kita akan
sangat bergantung kepada anak-anak kita untuk mendoakan kita. Kembali lagi
kepada kita, bagaimana cara kita mendidiknya selama kita hidup.
Rasulullah bersabda
"Setiap anak yang lahir dalam keadaan suci, maka orang tuanya lah yang
menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi"
jika kita mendidiknya dengan
kelembutan dan dasar-dasar ilmu agama islam, maka anak secara naluriah akan
selalu mendoakan orang tuanya. Karena anak sudah dibekali dengan ilmu agama
4. Anak Sebagai Ujian
Bahwa Allah akan selalu menguji selama kita hidup di
dunia, itu adalah Sunatullah. Dan anak bisa menjadi ujian hidup kita.
Misalnya memiliki anak yang
cantik atau tampan. Ini merupakan ujian bagi kita, apakah kita bisa menjadikan
mereka anak-anak yang bisa menjaga diri dengan menutup aurat (bagi anak
perempuan) atau menjadi anak yang bertanggung jawab (bagi anak laki-laki)
bukannya di ekspose menjadi foto model majalah remaja atau berlenggak lenggok
di catwalk. Atau semisalnya jika kita
memiliki anak yang -maaf... kurang dari segi fisik atau cacat bahkan
keterbelakangan mental. Ini juga merupakah ujian bagi kita dalam menghadapi
anak-anak yang seperti ini. disini mental sabar kita di uji!
Akankah kita akan berputus asa
lalu mengeluh sepanjang hidup kita ataukan kita berjuang keras melatih,
mendidik dan menjaga mereka. Pahala akan terus mengalir... selama kita di
uji melalui anak-anak ini dengan penuh
semangat dan ikhlas.
Sekali lagi selamat kepada
kalian, para orang tua.