Kamis, 10 Maret 2016

Kedudukan Anak Dalam Keluarga Menurut Pandangan Islam


Allah SWT. berfirman
QS. Ali Imran ayat 14
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang di inginkannya, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik"

            Berdasarkan ayat diatas, kita jadi tahu kan kenapa bisa begitu sayang dan cinta kepada anak? Hal ini merupakan Sunatullah bahwa,  Allah memang menciptakan perasaan cinta terhadap anak-anak diantara sekian banyaknya kesenangan hidup manusia di dunia. Begitu menggendong bayi untuk pertama kalinya dan menyusuinya, hati bunda dan ayah terasa berdebar-debar, harapan menjulang tinggi,  perasaan yang campur aduk bak gado-gado juga deraian air mata kebahagiaan yang meleleh tiada henti-hentinya, benarkan?
            Selamat kepada para orang tua yang sudah diberi kepercayaan  oleh Allah, seorang anak untuk di jaga dan di sayang, sebuah anugerah yang sangat besar nilainya, tidak akan bisa di ukur dengan mata uang  dan harta manapun di dunia ini dan sebuah tanggung jawab yang amat sangat besar sekali kini berada di atas pundak kalian berdua selaku orang tua.
Bagaimana caranya mendidik dan mengasuh dengan asuhan terbaik?
Sudahkah kita memberikan yang terbaik?
Pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu berputar-putar dikepala dan hati kita. karena itu marilah kita selalu mencari ilmu dan belajar sebanyak-banyaknya agar kita bisa memastikan bahwa putra-putri kita mendapatkan hak nya dengan baik dan menjadikan mereka manusia yang sholeh-sholehah. Menjadikan mereka cahaya bagi keluarga kita.
            Dan contoh teladan terbaik dalam mendidik anak itu cuma satu saja. Kita cari tahu dan tiru bagaimana Rasulullah, manusia paling sempurna di muka bumi tersebut dalam mendidik anak-anak menjadi sosok terkuat dan terbaik dimasanya. Bukan melalui latihan-latihan keras dan didikan yang menegangkan, namun dengan kelembutan dan suri tauladan.
"Lah kan itu dimasa Rasulullah... emangnya berlaku di zaman sekarang?"
Jawab saya "Ya iyalaaah... sampai kapanpun, jika kita meniru cara didik Rasulullah. Anak-anak kita InsyaAllah akan menjadi sosok terbaik di zaman sekarang."
            Tidakkah kita ingin anak-anak kita menjadi anak yang menyenangkan hati, yang taat, yang patuh, yang sholeh-sholehah, yang sayang kepada kita dengan tulus walau dengan cara mereka sendiri?
Siapapun pasti mendambakan anak-anak yang seperti itu.
Tunggu apa lagi?
Tirulah Rasulullah maka semuanya akan beres, berkah dan menyenangkan. Keluarga kita akan diliputi kedamaian dan kekhusyukan dalam menyembah Allah.
InsyaAllah
Namun... Sebelumnya kita harus tahu bagaimana kedudukan anak di tengah keluarga dalam pandangan islam.
1. Anak sebagai Amanah
            Seperti saat seorang teman meminjamkan sebuah buku kepada kita.  Tentu saja tugas kita adalah menjaga dan memastikan buku tersebut aman, tidak rusak dan kotor sehingga saat kita mengembalikan buku itu kepada pemiliknya, akan terasa puas dan senang . Jika dengan buku pinjaman teman saja kita bisa begitu berhati-hati, bagaimana dengan anak, yang kita jadikan sebagai perhiasan dan cahaya dalam hidup kita. Tentu saja kita akan amat sangat berhati-hati dan memastikan ia mendapat yang terbaik.
Sabda Rasulullah SAW
"..Suami sebagai pimpinan didlm rumah tangganya dan dia bertanggung jawab dalam rumah tangganya..." (HR. Bukhori Muslim).       
Kita akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang sudah di amanahkan kepada kita. Ini tugas yang sangat berat kan? Kita tidak ingin kan saat nanti kita bertatapan dengan Allah kelak di akhirat,  yang kita bawa adalah cela dan di cap sebagai manusia yang tidak bisa menjaga amanah?
Karena itu tugas kita terutama para bunda, yang lebih banyak berinteraksi dengan amanah yang satu ini, kita harus mendidik, merawat dan memastikan dia tumbuh menjadi manusia yang di ridhoi Allah.
2. Anak Sebagai Media Beramal
            Kita kerja untuk siapa? Para ayah atau kadang ada juga para bunda yang banting tulang tiap hari mulai pagi hingga sore itu kira-kira untuk siapa? Yang pastinya untuk anak kan? Bahkan sampai merantau ke negeri orang, kira-kira itu untuk dirinya sendiri? tentu saja tidak dong. Yang pasti kita melakukan demi keluarga.
Nah setiap jerih payah itu, Subhanallah betapa besar pahala yang mengalir. dan semua dihitung sebagai ibadah.
Rasulullah bersabda
"Apabila orang tua memberi nafkah kepada keluarga dan ia mengharap pahala karenanya, maka nafkah itu menjadi sedekah baginya" (HR. Bukhori Muslim)
 dan hadis yang lain.
"Satu dinar engkau nafkahkan untuk dijalan Allah, satu dinar engkau sedekahkan untuk faki miskin dan satu dinar engkau sedekahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya ialah engkau nafkahkan kepada anak dan istrimu" (HR Muslim)
wow...  menakjubkan kan, bukan?
Bisa kita hitung pahala kita, yang kita lakukan mulai mereka buka mata dipagi hari hingga tertidur di malam harinya? Allahu'alam, hanya Allah yang tahu. Selama kita melakukannya dengan penuh keikhlasan karena Allah. Bukan tidak mungkin melalui merekalah, kita masuk ke dalam Surga.
3. Anak Sebagai Amal Jariyah.
            Rasulullah bersabda
"Apabila manusia mati, maka terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara : Sedekah, Ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya" (HR. Bukhori Muslim)
setelah kita mati, kita akan sangat bergantung kepada anak-anak kita untuk mendoakan kita. Kembali lagi kepada kita, bagaimana cara kita mendidiknya selama kita hidup.
Rasulullah bersabda
"Setiap anak yang lahir dalam keadaan suci, maka orang tuanya lah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi"
jika kita mendidiknya dengan kelembutan dan dasar-dasar ilmu agama islam, maka anak secara naluriah akan selalu mendoakan orang tuanya. Karena anak sudah dibekali dengan ilmu agama
4. Anak Sebagai Ujian
            Bahwa Allah akan selalu menguji selama kita hidup di dunia, itu adalah Sunatullah. Dan anak bisa menjadi ujian hidup kita.
Misalnya memiliki anak yang cantik atau tampan. Ini merupakan ujian bagi kita, apakah kita bisa menjadikan mereka anak-anak yang bisa menjaga diri dengan menutup aurat (bagi anak perempuan) atau menjadi anak yang bertanggung jawab (bagi anak laki-laki) bukannya di ekspose menjadi foto model majalah remaja atau berlenggak lenggok di catwalk. Atau semisalnya jika kita memiliki anak yang -maaf... kurang dari segi fisik atau cacat bahkan keterbelakangan mental. Ini juga merupakah ujian bagi kita dalam menghadapi anak-anak yang seperti ini. disini mental sabar kita di uji!
Akankah kita akan berputus asa lalu mengeluh sepanjang hidup kita ataukan kita berjuang keras melatih, mendidik dan menjaga mereka. Pahala akan terus mengalir... selama kita di uji  melalui anak-anak ini dengan penuh semangat dan ikhlas.

Sekali lagi selamat kepada kalian, para orang tua.

2 komentar:

  1. naskah nya bagus. semoga terbit ya.Anak ini memang banyak orangtua yang terkadang hilang kesabaran dalam mendidiknya

    BalasHapus